Minggu pagi sambil mendengarkan radio MQ yang biasanya memutar siaran langsung ceramah di masjid DT, mata saya tertumbuk pada dua buah liputan berita di koran harian pagi tertanggal 21 April yang lalu, hati terenyuh ketika membaca dua liputan tersebut, berita yang pertama melahirkan kesedihan yang mendalam sementara liputan yang kedua menimbulkan kebencian yang luar biasa.
Berita pertama mengisahkan tentang seorang wanita yang berusia sekitar 35 tahun ditemukan tewas mengenaskan di sebuah ladang dengan beralaskan daun pisang, menurut hasil visum wanita itu meninggal lantaran kelaparan dan sakit yang dideritanya. Masyarakat di sekitar ladang itu sebenarnya sudah melihat kehadiran wanita itu sekitar satu pekan sebelumnya, menurut warga wanita itu tampak putus asa dan tidak menjawab bila ada warga yang bertanya lebih jauh tentang dirinya. Akhirnya wanita itu berdiam diri di ladang, membuat saung beratapkan daun pisang sebagai tempat berteduh. Mulanya warga yang kasihan membantu wanita itu dengan mengirim makanan ala kadarnya tetapi lama-lama warga tidak lagi membantunya, sebab masyarakat di daerah itu termasuk warga miskin, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka juga sangat kesusahan. Maka tibalah hari yang mengenaskan itu, wanita asing itu akhirnya tewas mengenaskan sambil menahan rasa lapar yang menggerus tubuhnya, sebab ketika ditemukan untuk pertama kalinya kondisi wanita itu tinggal tulang berbalut kulit.
Hati saya terluka membaca berita di atas, pikiran melayang ke sekian belas abad silam. Sang kholifah akhirnya memutuskan untuk tidak meneruskan penyebaran dakwah hingga ke negeri-negeri yang jauh dari pusat agama Islam, yaitu Madinah Al Munawaroh. Ketika ditanya oleh sang panglima perang dengan wajah yang tertunduk, sang kholifah mengatakan , “ Wahai saudaraku, apa yang harus saya jawab jika Alloh kelak bertanya kepada saya tentang matinya keledai di sebuah negeri nun jauh di sana, sementara saya tidak mengetahuinya ? Tentu sangat berat bagi saya untuk menjawab amanah kepemimpinan ini, karena itu cukuplah sampai di sini saja saudaraku “. Akhirnya sang panglima mengerti bahwa sang kholifah takut jika tidak mampu mengelola kawasan Islam yang sudah membentang jauh sampai kedaratan Eropa, sang kholifah khawatir tidak bisa mensejahterakan rakyat yang berada di bawah naungan kekhilafahan. Kholifah yang bersahaja itu adalah Umar ibnul Khottob ra.
Siapakah yang harus bertanggung jawab atas kematian wanita yang kelaparan itu ? Kita sebagai umat Islam adalah pemegang tanggung jawab atas nasib saudara-saudara kita. Namun timbul pertanyaan lainnya, bagaimana jika kita juga tidak diberi kemampuan untuk menolong ? Bagaimana jika secara ekonomi kita pun dirundung kemalangan, kemiskinan menjerat leher seolah virus yang belum ditemukan obatnya, apa yang dapat dilakukan ? Entahlah … saya pun merasa lemah jika sampai pada pertanyaan itu, sebab saya bukan orang kaya, bukan orang yang berkelimpahan harta sehinga bisa menolong orang lain. Bagaimana dengan pemerintah ? Bukankah wanita yang tewas mengenaskan itu adalah seorang warga negara di Nusantara ini ? Berarti kematian wanita itu lebih tepat sebagai bentuk kelalaian pemerintah dalam mengurus rakyatnya. Sesungguhnya pernyataan tersebut adalah benar. Saya, Anda maupun wanita yang malang itu adalah tanggung jawab pemerintah, sebab pemerintah adalah pemimpin kita. Namun kita juga mengetahui bagaimana watak dari pemerintah yang sebenarnya, kebanyakan dari pejabat adalah representasi dari kekuatan besar yang berada di belakang mereka, sesungguhnya mereka tidak mewakili rakyat , mereka mewakili kepentingan-kepentingan yang menjadi penyebab utama mereka bisa menduduki jabatan-jabatan strategis baik di legislatif maupun yudikatif. Maka wajar jika mereka lupa, lupa siapa yang telah memilih mereka ( baca : rakyat ) , lupa bahwa jabatan yang diemban adalah amanah, lupa siapa diri mereka sendiri. Jika demikian apa yang harus kita lakukan ? Di sinilah tugas besar seorang muslim berada. Rasa cinta kepada saudara kita yang lain, seharusnya mengalahkan rasa cinta kepada diri sendiri sebab demikianlah yang diajarkan oleh rosululloh. Masih ingatkah dengan kisah tiga pahlawan muslim yang terluka di medan perang, lalu ketiganya meminta air karena rasa haus yang teramat sangat. Namun ketiganya saling mempersilahkan temannya yang lain untuk mencicipi air itu terlebih dahulu, padahal ketiganya sudah dalam keadaan yang sangat parah. Akhirnya mereka bertiga gugur sebagai mujahid tanpa meminum air itu barang setetespun.
Mental problem solver harus kita tumbuh - suburkan di dalam diri apapun kondisi yang ada, memang sulit, tetapi justru peradaban Islam bersinar beberapa waktu yang silam di atas kesulitan-kesulitan yang mendera, di atas kesulitan itulah Islam datang membawa cahaya, sehingga dunia tercerahkan. Lalu di mana peran pemerintah ? Tanpa ditanya pun, pemerintah adalah pemegang tanggung jawab terbesar atas semua keadaan yang terjadi di negeri ini. Entahlah saya bukan pengamat politik yang bisa menilai pemerintah secara semestinya, saya hanya menilai dari apa yang dzhahir terlihat saja, wajar jika penilaian saya terkesan subjektif. Sebagai rakyat kecil saya berharap mudah-mudahan terpilihnya Bapak Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf bisa menjadi solusi atas berbagai permasalahan yang menghantam Jawa Barat, apalagi saya mendapat informasi bahwa Bapak Ahmad Heryawan adalah seorang ustadz yang peduli dengan kondisi umat . Terpilihnya HADE bisa juga diartikan sudah muaknya masyarakat kecil terhadap kesewenangan pemimpin sebelumnya, mudah-mudahan terpilihnya HADE mampu mewujudkan harapan masyarakat miskin di tatar Pasundan ini, mudah-mudahan ….
Berita kedua lebih kepada apresiasi kedongkolan saya terhadap satu kenyataan yang gila. Coba simak data di bawah ini :
Hingga 31 Maret 2007 sudah ada 8.988 kasus AIDS dan 5.640 infeksi HIV di Indonesia. Yang tertular AIDS sebagai berikut : 54,34% berusia 20 – 29 tahun ; 27,4% berusia 30 – 39 tahun ; 8,06% berusia 40 – 49 tahun. Penularan melalui : 49,6% melalui penggunaan jarum suntik oleh penyalahgunaan narkoba ( IDU ) ; 41,2% melalui hubungan heteroseksual ( perzinahan lawan jenis ) ; 4,3% melalui hubungan homoseksual ( perzinahan sesama jenis ). Disebutkan di berita tersebut jika upaya penanggulangan tidak dilakukan secara intensif dan berkelanjutan, pada tahun 2010 kasus HIV/AIDS akan sangat membahayakan bagi penduduk Indonesia, khususnya bagi anak-anak dan remaja di masa mendatang.
Fenomena HIV / AIDS adalah malapetaka dunia saat ini, sebab belum diketemukan obat penyembuhnya. Ibaratnya bagi para penderita sudah divonis mati, sebab memang rata-rata para penderita penyakit ini tidak tertolong lagi.
Di tengah kesulitan yang mendera umat, masih saja ada orang-orang yang lupa daratan. Bukannya menjadi solusi atas permasalahan yang menimpa umat justru malah menjadi bagian dari masalah itu sendiri. Bagaimana bisa di tengah kemiskinan yang menimpa ( baca : miskin harta dan miskin iman ) perzinahan merebak bak cendawan di musim hujan. Seharusnya perzinahan dihapuskan dari negeri yang berpenduduk mayoritas muslim ini, bukan malah dimanfaatkan sebagai aset negara. Dalam berbagai tulisan saya membaca bahwa bisnis lendir ini telah menghasilkan pajak yang besar bagi pemerintahan daerah hingga miliaran rupiah setiap bulannya. Tidak bisa saya bayangkan membangun daerah dari hasil yang kotor, ibarat membangun tempat ibadah dengan kotoran, apakah mungkin itu terjadi ? Alloh tidak akan menerima kebaikan yang dilakukan dengan cara yang kotor, cara-cara ala Robin Hood tidak dikenal dalam Islam.
Inilah fenomena negeri kita saat ini, kemiskinan dan kemaksiatan hidup berdampingan. Keduanya membuat mata dan hati menjadi buta. Kehidupan yang damai, aman, sejahtera dan nyaman hanya ada di buku-buku dongeng sebab sangat sulit untuk mendapatkannya, yang ada hanyalah kehidupan bak tikus-tikus got, begitu hina dan kotor. Kesejahteraan lebih berupa jargon yang dipasang di tempat-tempat umum, tapi tidak ada realisasinya. Atas nama kesejahteraan pula korupsi dilakukan bersama-sama oleh para pemegang amanah kekuasaan, sebagian kecil saja para pejabat yang masih memiliki hati, sebagian besar lainnya lupa bahwa mereka masih punya hati. Mereka berpesta – pora di tengah penderitaan rakyat. Rakyat yang perlahan-lahan berubah menjadi bangkai berjalan.
Sungguh gila kenyataan ini, gila segila-gilanya ! Adakah setitik harapan keluar dari lingkaran setan ini ? Dalam keheningan jiwa, mata hati saya masih bisa menyaksikan, meski hanya segelintir orang saja dari dua ratus jutaan warga Nusantara, yang bisa membawa angin perubahan. Mereka adalah sosok-sosok makhluk langit yang mengembara di dunia, mereka memiliki kekuatan spiritual yang tinggi, menjadikan hidup sebagai amanah yang tidak boleh disia-siakan, mereka berbuat sesuatu dari yang mereka sanggup lakukan, meski kecil namun berarti. Mereka adalah sosok-sosok yang sibuk mengurus akhirat daripada kesenangan duniawi yang pasti berakhir, mereka berusaha menjadi solusi atas permasalahan umat ini. Keberadaan mereka seringkali menjadi momok menakutkan bagi pencinta kedurhakaan, sehingga sosok-sosok luar biasa itu diburu dan dimusnahkan. Tetapi janji Alloh itu pasti, keberadaan mereka akan selalu ada meski dunia tidak menghendakinya. Mereka dihadirkan ke dunia ini menyebarkan berita gembira, bahwa kehidupan yang indah itu masih ada dan masih bisa dinikmati, bahwa hidup itu tidak meski harus selalu berbalutkan kekotoran.
Siapakah mereka itu ? Jawabannya tergantung pilihan kita sendiri. Maukah kita menjadi sosok – sosok yang mulia itu ? Atau jangan-jangan kita senang dengan najis yang selalu menempel di hati kita ? Sehingga lebih memilih hidup seperti tikus got, makan dan mati di tempat yang hina ? Alloh memberi keleluasaan kepada kita untuk memilih, tidak ada paksaan dari-Nya, hanya saja jika kita sudah memilih mau menjadi apa, Alloh meminta kita untuk berkomitmen, sebab tiap pilihan yang kita putuskan selalu memiliki konsekuensi.
Hati – hati dalam memilih saudaraku.
Sketsa Ahad pagi, 27 April 2008
Padasuka Indah, Cimahi.
Sudiono Mangundiri