Keluarga itu hanya tertunduk pasrah menghadapi cobaan berat yang menimpa. Usia yang kian lanjut tak menjadikan sepasang suami istri itu berputus asa, padahal ke tiga anaknya menderita kelumpuhan, kelumpuhan yang datang tiba-tiba tanpa diketahui penyebabnya.
Ketiga anaknya terpaksa memasuki usia remaja dengan kelumpuhan, dua anak hanya berbaring tidak berdaya sementara yang satu lagi sudah mulai tak kuasa untuk melangkahkan kaki, alamat akan menyusul nasib kedua saudaranya itu. Usia remaja yang seharusnya mereka lewati dengan penuh warna hanya menjadi impian yang teramat sulit untuk diwujudkan.
Sehari-hari mereka diperlakukan ibarat bayi, mereka mesti digotong secara bergantian oleh kedua orang tua mereka yang sudah memasuki usia senja ketika akan mandi. Sang ibu dengan segala kesabaran selalu membersihkan bekas buang air anak-anaknya, makanpun harus disuapi, belum lagi kemiskinan yang menjerat leher, setelah habis menjual tanah untuk biaya berobat kini mereka hanya pasrah menunggu sang waktu menamatkan episode kehidupan yang dijalani.
Ada yang luar biasa yang terlihat dari penderitaan mereka, rasa tawakal yang kuat kepada sang pencipta. Entah bagaimana jika cobaan itu menimpa saya, rasanya tak ada kekuatan untuk bisa memanggulnya, karena saya biasanya menghadapi persoalan yang remeh-temeh saja, keluh-kesah segera menyerbu lisan ini, padahal ya itu tadi, masalah yang dihadapi bukan persoalan besar.
Sayangnya acara yang mampu membangkitkan kesadaran akan kebesaran Alloh ditayangkan ketika hari sudah larut malam, di saat kebanyakan orang sudah terlelap dalam mimpinya, kalaupun ada yang menonton mungkin memilih channel hiburan lebih menyenangkan daripada nonton kisah pilu kehidupan.
Saya merasa rasa syukur seketika menjalari sekujur tubuh, syukur bukan menyaksikan keadaan orang lain yang menderita, sama sekali bukan, bahkan saya angkat topi yang setinggi-tingginya kepada mereka lantaran sanggup memikul cobaan yang sebegitu berat. Syukur yang lahir semata-mata karena kebodohan saya dalam menghadapi kehidupan ini. Betapa banyak Alloh telah berikan karunia kepada saya, namun sedikit sekali yang saya syukuri hingga detik ini.
Tahukah Anda ? Karena tak pandai bersyukur itulah hidup saya kacau-balau, segalanya seolah-olah tidak sesuai harapan, kegagalan membuat hati berkerut, tak ada lagi semangat menatap hari esok, benar-benar sebuah kehidupan yang mengerikan, nightmare !
Setelah menyaksikan tayangan tadi membuat saya mengevaluasi kembali cara berfikir saya selama ini, apa yang membuat sepasang kakek dan nenek di atas kuat menghadapi ujian sedahsyat itu ? Kenapa mereka masih bisa tersenyum ? Kenapa mereka masih bisa bersabar padahal kebahagiaan telah terenggut ? Secara nalar semua itu tak mampu saya jawab, sebab saya terbiasa bahagia apabila ada uang di dompet, saya terbiasa bahagia apabila bisa mengajak istri jalan-jalan ke pusat-pusat perbelanjaan, saya terbiasa bahagia apabila memborong buku-buku baru, tak terbayangkan jika saya bisa bahagia apabila kesusahan terus mendera hari-hari saya. Namun jika saya meminta hati berbicara, barulah saya menemukan jawabannya, semua kesusahan itu bisa dihadapi hanya dengan hati bukan dengan nalar.
Pertanyaannya seberapa sering kita mempergunakan hati untuk memandang kehidupan ini daripada nalar kita sendiri ? Nalar cenderung kausalitas, mengedepankan sebab-akibat. Saya baru bisa bahagia apabila ada uang, saya baru bisa senang jika belanja buku, dan seterusnya, karena itulah saya menderita. Tetapi hati berbeda, hati lebih mengedepankan keyakinan kepada kehendak Ilahi, apapun yang dihadapi dalam kehidupan ini, mau senang atau susah selama itu terjadi atas kehendak Yang Maha Kuasa maka setiap kejadian selalu ada hikmahnya, inilah rupanya rahasia kekuatan dari orang-orang yang teguh menghadapi ujian kehidupan.
Saya teringat sebuah lirik lagu :
Pandangan mata selalu menipu
Pandangan akal selalu tersalah
Pandangan hati selalu melulu
Pandangan hati itu yang hakiki
………………………………………….. dst
Saya akan selalu terjebak dalam penderitaan yang tiada berkesudahan apabila masih senang mendustai hati dan mengkerdilkan perannya dalam kehidupan saya, sementara nalar saya puja bak seorang raja, padahal tanpa peran hati sang supervisor maka nalar hanya akan menjerumuskan saya ke lembah kehancuran.
Sesungguhnya hati yang jernih akan melahirkan rasa syukur yang agung, itulah sumber mata air kebahagiaan yang hakiki.
Salam