<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:creativeCommons="http://backend.userland.com/creativeCommonsRssModule">

<channel>
	<title>Dbiz</title>
	<atom:link href="http://dbiz.bedeng.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dbiz.bedeng.com</link>
	<description>suara hati suara kejujuran</description>
	<pubDate>Fri, 23 May 2008 07:10:41 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Kebangkitan nasional atau kebangkrutan nasional ?</title>
		<link>http://dbiz.bedeng.com/2008/05/23/kebangkitan-nasional-atau-kebangkrutan-nasional/</link>
		<comments>http://dbiz.bedeng.com/2008/05/23/kebangkitan-nasional-atau-kebangkrutan-nasional/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 May 2008 07:10:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dbiz</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dbiz.bedeng.com/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[Tak ada maksud untuk nyeleneh saat terpikir untuk membuat judul di atas, hanya saja dalam pandangan saya, yang seharusnya negeri ini bisa bangkit sejak keterpurukannya di tahun 1998, kenyataannya negeri ini kian bangkrut saja, buktinya kalau subsidi BBM tidak ditarik dari rakyat, maka anggaran belanja negara akan berantakan.
100 tahun kebangkitan nasional entah dengan cara bagaimana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify">Tak ada maksud untuk nyeleneh saat terpikir untuk membuat judul di atas, hanya saja dalam pandangan saya, yang seharusnya negeri ini bisa bangkit sejak keterpurukannya di tahun 1998, kenyataannya negeri ini kian bangkrut saja, buktinya kalau subsidi BBM tidak ditarik dari rakyat, maka anggaran belanja negara akan berantakan.</p>
<p style="text-align: justify">100 tahun kebangkitan nasional entah dengan cara bagaimana saya harus merayakannya, sebab saat ini jantung saya deg-deg plas menghadapi kenaikan BBM yang hanya menghitung jam. Apakah saya bisa bangkit jika semua harga-harga merangkak naik ? Padahal sebelum naik saya sudah mengalami kesusahan yang membuat kepala nyut-nyutan tidak karuan.<span id="more-43"></span></p>
<p style="text-align: justify">Indonesia bisa ! Semboyan yang kini digaungkan pemerintah dalam merayakan kebangkitan nasional, pertanyaannya bisa apa ? Bisa keluar dari masalah atau malah bisa menambah masalah ? Terlalu abstrak buat saya semboyan itu, karena bisa multitafsir jadinya.</p>
<p style="text-align: justify">Di koran-koran harian diprediksi akibat naiknya harga BBM rakyat miskin akan semakin bertambah, sebab harga-harga kian tak terjangkau. Bahkan di salah satu stasiun TV saya menonton seorang warga negeri ini mengatakan , &#8221; Saya tolak bantuan langsung tunai ( BLT ) dari pemerintah, sebab bagi saya itu seperti rayuan gombal &#8221; , apa artinya diberi uang 100 ribu jika harga - harga naik ?</p>
<p style="text-align: justify">Gerakan rakyat yang melakukan penolakan terhadap naiknya BBM kian meluas, bahkan ada yang ingin melakukan revolusi agar semua masalah negeri ini selesai. Pertanyaannya, revolusi seperti apa yang ingin dilakukan ? Revolusi yang damai atau berdarah-darah ? Kalau mau damai kayaknya juga tidak pas dengan kata revolusi itu sendiri, kesan saya saat mendengar revolusi, ada pertumpahan darah, kekerasan dan pengorbanan yang akan menumbalkan lawan, dan memang dalam fakta sejarah revolusi identik dengan kekerasan.</p>
<p style="text-align: justify">Kalau revolusi tidak identik dengan kekerasan kok kebanyakan masyarakat kita di negeri ini takut ya mendengar kata revolusi ? Kebanyakan lebih memilih reformasi, evaluasi, perubahan tapi tidak revolusi ! Ada apa sebenarnya revolusi ? JIka revolusi bisa dimaknakan dengan perjuangan secara total dalam menggapai suatu tujuan, maka saya pikir bangsa ini sudah harus direvolusi bukan lagi reformasi. Kalau bangsa ini menghendaki kemajuan maka seluruh pelakunya haruslah orang-orang yang siap untuk maju, yang tidak siap tidak boleh ikut gerbong, tinggalkan saja distasiun.</p>
<p style="text-align: justify">Kenapa juga setiap revolusi biasanya dikaitkan dengan Che Guevara ? Kesannya revolusi itu kiri dan kiri itu seksi ( <em>Che said</em> lho ), padahal gaung Che hanya ada di batas - batas tertentu, saya saja sebagai penulis tidak terlalu tahu siapa itu Che. Kenapa revolusi tidak dikaitkan dengan Nabi Muhammad SAW yang telah melakukan perubahan besar-besaran terhadap pola-pikir manusia ? Pola pikir yang menganjurkan agar antar manusia harus dibedakan berdasarkan karakter-karakter yang tidak adil, dirubah menjadi manusia itu hanya dibedakan dari ketakwaannya saja, bukan yang lainnya.</p>
<p style="text-align: justify">Jadi dalam memperingati kebangkitan nasional rupanya saya memang harus banyak bertanya, untuk siapa sebenarnya Indonesia bisa itu ? Kalau dikatakan untuk rakyat, kok hingga kini rakyat kian tertindas dan termiskinkan. Semangat revolusi yang sejak lama digaungkan kalangan muda Indonesia jika dirasa sudah tepat dengan momen kebangkitan nasional ini tampaknya juga masih harus dipertanyakan, revolusi seperti apa yang akan dikobarkan ?</p>
<p style="text-align: justify">Entahlah &#8230;. saya juga belum tahu jawabannya, hanya saya masih meyakini revolusi yang telah sukses menjalankan misinya adalah revolusi yang telah ditunaikan oleh rosululloh SAW, tak perlu disangkal sebab sudah dibuktikan oleh sejarah.</p>
<p style="text-align: justify">Salam</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dbiz.bedeng.com/2008/05/23/kebangkitan-nasional-atau-kebangkrutan-nasional/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Berteriaklah</title>
		<link>http://dbiz.bedeng.com/2008/05/22/berteriaklah/</link>
		<comments>http://dbiz.bedeng.com/2008/05/22/berteriaklah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 May 2008 01:55:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dbiz</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kontemplasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dbiz.bedeng.com/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[Kesusahan menghimpit dada, membuat roda kepala tak lagi mampu berfikir dengan jernih, yang ada hanyalah onggokan suara-suara  tak bertuan, yang menyuruh diri untuk berputus asa.
Apa yang terjadi ? Apakah Tuhan sudah menjauh dari kehidupan kita ? Mengapa kesusahan demi kesusahan datang silih berganti, memuakkan dan menghancurkan nurani yang memang tak lagi utuh.
Ada apa sebenarnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify">Kesusahan menghimpit dada, membuat roda kepala tak lagi mampu berfikir dengan jernih, yang ada hanyalah onggokan suara-suara  tak bertuan, yang menyuruh diri untuk berputus asa.</p>
<p style="text-align: justify">Apa yang terjadi ? Apakah Tuhan sudah menjauh dari kehidupan kita ? Mengapa kesusahan demi kesusahan datang silih berganti, memuakkan dan menghancurkan nurani yang memang tak lagi utuh.<span id="more-40"></span></p>
<p style="text-align: justify">Ada apa sebenarnya ? Haruskan kebencian menjadi senjata paling ampuh hadapi semua kesialan ini ? Atau hanya berpura-pura seolah tidak ada apa-apa, kembali berlakon di panggung srimulat kehidupan ?</p>
<p style="text-align: justify">Musibah ini bagai kiamat yang telah dijanjikan, begitu pahit,begitu menakutkan ! Menghancurkan harga diri serta kehormatan jiwa sehingga yang tersisa hanyalah mental-mental pecundang yang takut tak kebagian jatah</p>
<p style="text-align: justify">Tahukah kau jawabannya ? Ku yakin jawaban itu tersumbat di lubang jiwamu, sama seperti diri ini yang tak mampu membuka sumbatan itu, sebab ia sudah lama ada di sana.</p>
<p style="text-align: justify">Sayup ayat - ayat Tuhan berkumandang, jauh di sudut hati yang terlupakan. Suara Agung itu menggetarkan sanubari, <em>Tuhan tidak pernah pergi, Ia ada di mana dirimu berada, namun kau lah yang pergi dari Tuhan, kapan kembali ?</em></p>
<p style="text-align: justify">Masjid-masjid berdiri tegak, madrasah-madrasah riuh-rendah suara hapalan, majelis-majelis taklim ramai wanita berjilbab, ulama-ulama berkeliaran disekitarmu, mengapa tak jua kembali ? Apakah menunggu datangnya hari yang dijanjikan itu tiba ? Padahal saat masa itu tiba, kuyakin kau tak lagi menjadi milikmu, kuyakin seyakin-yakinnya &#8230;&#8230;</p>
<p style="text-align: justify">Kembalilah</p>
<p style="text-align: justify">kesempatan itu masih ada !</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dbiz.bedeng.com/2008/05/22/berteriaklah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Gawat, &#8216;gak bisa pipis !</title>
		<link>http://dbiz.bedeng.com/2008/05/19/gawat-gak-bisa-pipis/</link>
		<comments>http://dbiz.bedeng.com/2008/05/19/gawat-gak-bisa-pipis/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 May 2008 13:17:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dbiz</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Sketsa hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dbiz.bedeng.com/2008/05/19/gawat-gak-bisa-pipis/</guid>
		<description><![CDATA[Jadi teringat dengan almarhum kakek yang di masa hidupnya menderita banyak penyakit. Satu di antara penyakit yang bersarang dalam tubuhnya adalah prostat alias susah untuk buang air kecil alias pipis. Sungguh merupakan penderitaan yang amat menyakitkan tatkala anugerah bisa pipis dengan lancar telah dicabut oleh Yang Maha Kuasa, alm.kakek harus menahan rasa sakit yang luar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Jadi teringat dengan almarhum kakek yang di masa hidupnya menderita banyak penyakit. Satu di antara penyakit yang bersarang dalam tubuhnya adalah prostat alias susah untuk buang air kecil alias pipis. Sungguh merupakan penderitaan yang amat menyakitkan tatkala anugerah bisa pipis dengan lancar telah dicabut oleh Yang Maha Kuasa, alm.kakek harus menahan rasa sakit yang luar biasa karena tak mampu pipis dengan leluasa, ibarat hasrat ingin pipis sudah begitu besar namun air yang bisa keluar hanya tetes demi tetes saja, tersiksa sekali bukan ? Semoga penderitaan yang dialami beliau menjadi tambahan amal kebaikan baginya kini, saat waktu kembali kepada-Nya telah tiba, <em>Amin</em>.</p>
<p align="justify">Lalu bagaimana dengan kita ? Beberapa kali saya saksikan beberapa orang yang diberi kemudahan untuk pipis namun tidak bisa mensyukurinya. Apa bukti tidak mensyukuri ? Mereka melakukan adegan pipis di sembarang tempat setelah itu tidak dibersihkan, main pergi saja, sehingga orang-orang yang berada di tempat itu harus tersiksa mencium bau pesing yang baunya &#8216;gak ketulungan, apalagi kalau sudah makan jengkol <em>and the petey</em>, hiyy bisa nempel tuh bau dihidung kita.<span id="more-39"></span></p>
<p align="justify">Padahal dalam sebuah keterangan rosululloh SAW pernah mengatakan <em>barang siapa yang pipis tidak dibersihkan maka ia akan mendapat siksa di alam kubur</em>, hiyy apa &#8216;gak takut tuh orang sama ancaman hadits ini ? Sekarang boleh ketawa karena lega bisa mengeluarkan hasrat alam berupa pipis, tapi kelak disiksa, bakal nangis &#8216;gak berhenti-henti lho.</p>
<p align="justify">Bukan apa-apa, saya bukannya mau usil sama urusan orang lain, apalagi urusan pipis yang biasanya dianggap hina dengan sebelah mata, pipis aza kok diurusin. Tapi saya tidak dapat membohongi hati kecil saya, bahwa anugerah pipis dengan lancar yang masih bisa dirasakan hingga detik ini adalah suatu karunia yang harus disyukuri dengan syukur yang sebenar-benarnya, nah diantara bukti syukur itu adalah tidak pipis sembarangan dan setelah itu ya dibersihkan, biar semua senang dan &#8216;gak dapat dosa dari Alloh.</p>
<p align="justify">Apa mau dapat laknat dari Alloh berupa berbagai penyakit yang berkaitan dengan saluran kandung kemih ? Mudah saja toh bagi Dia untuk membuat penyakit prostat menimpa diri saya, Anda atau siapa saja. Malah terkadang juga saya dengar ada yang mendoakan jelek bagi orang-orang yang demen pipis sembarangan, seorang ibu pernah berdoa seperti ini, semoga kena penyakit burut, semoga kena penyakit susah kencing, dll ketika sang ibu lewat sebuah tempat yang baunya kayak demit, bayangkan jika doa itu dikabul sama Alloh, dan orang yang pernah pipis di tempat itu kena batunya, amit-amit deh !</p>
<p align="justify">Jangan sampai penyesalan itu datang ketika saya atau Anda terkapar tak berdaya di rumah sakit karena penyakit &#8216;gak bisa pipis, kemana-mana harus pake selang, bahkan pispot sudah tersedia di samping Anda, rasanya semua itu bagai mimpi buruk yang siapapun saya yakin tidak mau menerimanya. Lalu jika tidak mau menderita seperti itu, mengapa mengundang murka Alloh dengan menyengaja pipis sembarangan ? Apa memang sengaja nantangin Alloh ? Wah bisa ludes sampeyan nantinya.</p>
<p align="justify">Tulisan ini tidak akan pernah menyinggung orang-orang yang mencintai kebersihan, mencintai lingkungan yang indah dengan wewangian bunga yang semerbak, tapi jika ada yang tersinggung, mudah-mudahan bukan karena senang pipis sembarangan, tapi mungkin karena tulisan saya yang jelek atau &#8216;gak bermutu, ya <em>it&#8217;s oke</em> setiap orang berhak memberi pendapatnya, termasuk mengenai tulisan saya ini.</p>
<p align="justify">Mari lestarikan lingkungan kita dengan pipis pada tempatnya dan bersihkan dengan sebersih-bersihnya agar hidup menjadi sehat, karena sehat mudah-mudahan kita &#8216;gak terkena penyakit yang berkaitan dengan pembuangan, baik itu pembuangan yang besar ( BAB ) ataupun yang kecil ( pipis tea ).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dbiz.bedeng.com/2008/05/19/gawat-gak-bisa-pipis/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Apa kabar bung dosen ?</title>
		<link>http://dbiz.bedeng.com/2008/05/15/apa-kabar-bung-dosen/</link>
		<comments>http://dbiz.bedeng.com/2008/05/15/apa-kabar-bung-dosen/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 May 2008 03:56:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dbiz</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Sketsa hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dbiz.bedeng.com/2008/05/15/apa-kabar-bung-dosen/</guid>
		<description><![CDATA[Saat ini isu kenaikan BBM tinggal menunggu waktu, sebab sudah bisa dipastikan BBM akan naik, hanya persoalan waktu yang tepat untuk menyampaikan kepada masyarakat. Terjadi pro dan kontra menanggapi persoalan kenaikan BBM, tak sedikit berakhir konflik antara masyarakat dengan aparat keamanan.
&#160;
Saya tidak dalam kapasitas untuk memberikan argumentasi tentang BBM ini, selain keterbatasan ilmu yang dimiliki, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Saat ini isu kenaikan BBM tinggal menunggu waktu, sebab sudah bisa dipastikan BBM akan naik, hanya persoalan waktu yang tepat untuk menyampaikan kepada masyarakat. Terjadi pro dan kontra menanggapi persoalan kenaikan BBM, tak sedikit berakhir konflik antara masyarakat dengan aparat keamanan.<span id="more-37"></span></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Saya tidak dalam kapasitas untuk memberikan argumentasi tentang BBM ini, selain keterbatasan ilmu yang dimiliki, di luar sana, baik itu di TV dan radio sudah teramat banyak pengamat ekonomi yang berbusa-busa memberikan penjelasan ilmiah seputar kenaikan BBM ini. Tetapi sebagai wong cilik saya tentu saja menolak mentah-mentah kenaikan BBM ini, sebab bagi saya harga kebutuhan pokok yang ikut-ikutan melambung membuat beban hidup saya kian berat saja.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Saya jadi teringat dengan sahabat saya yang kini bertugas sebagai dosen di salah satu perguruan tingga di Jogya. Ketika para mahasiswa asyik berdemo menyuarakan aspirasi rakyat agar BBM tidak jadi naik, apa ya kira-kira yang dilakukan oleh kawan saya itu ? Apakah dia ikut juga demo bersama mahasiswanya ? Atau cukup diwakili oleh anak didiknya saja sementara dia sibuk kembali berkutat dengan diktat-diktat tebal bahan ajar ? Entahlah saya belum konfirmasi secara langsung kepada sobat saya itu tentang apa yang sedang dilakukannya saat ini berkaitan dengan kenaikan BBM.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Namun ketika melihat sosoknya memberikan komentar di blog sederhana  saya ini, saya sedikit punya gambaran apa yang telah dilakukan oleh sobat saya yang dosen itu. Ia menawarkan agar saya sudi menonton Doger Coblak di PJTV setiap Minggu malam pukul 20.30, dan Alhamdulillah saya menyempatkan waktu untuk menonton bahkan jadi jadwal wajib saya ( ya iyalah masa sobat sendiri masuk TV gak ditonton ). Ternyata ia punya gaya sendiri dalam menyikapi kebijakan pemerintah yang tidak pro-rakyat terutama yang berkaitan dengan BBM ini.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Sobat saya itu pecinta budaya sunda, maka dengan kecintaannya itu ia membuat suatu acara budaya di PJTV, namanya Doger Coblak.Bentuk acaranya <em>bobodoran (</em>humor<em>)</em> yang tidak hilang esensi sosialnya, jadi kritik sosial yang disajikan secara humoris gitulah. Wah saya jadi semakin salut dengan bung dosen ini, tetap berkarya dengan dunianya, luar biasa. Ada yang belum nonton ? Wah kacian deh luuuuu, ayo mulai sekarang sempetin nonton Doger Coblak, pasti ketagihan.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Saya ucapkan selamat buat bung dosen yang kini telah merambah dunia pertelevisian dengan Doger Coblaknya, pesan saya jangan lupakan nasib wong cilik, jadikanlah mereka tema sentral dari karya-karya Anda, insya Alloh Doger Coblak akan selalu di hati masyarakat sampai kapanpun. <em>Amin</em>.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Bravo bung dosen !</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dbiz.bedeng.com/2008/05/15/apa-kabar-bung-dosen/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Di manakah photo sang raja ?</title>
		<link>http://dbiz.bedeng.com/2008/05/15/di-mankah-photo-sang-raja/</link>
		<comments>http://dbiz.bedeng.com/2008/05/15/di-mankah-photo-sang-raja/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 May 2008 03:10:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dbiz</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kisah Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dbiz.bedeng.com/2008/05/15/di-mankah-photo-sang-raja/</guid>
		<description><![CDATA[Sehari setelah Raja Faruq menghadap ustadz Hudaibi, datang utusan istana ke kantor pusat Ikhwan Al Muslimin  membawa photo raja dalam suatu bingkai yang megah dihadiahkan kepada yang mulia ustadz Hasan Ismail Al Hudaibi Mursyid&#8217;aam IM, dengan dibubuhi tanda tangan raja.
&#160;
Utusan itu mengusulkan agar photo itu dipasang di Maktab Irsyad. Ikhwan pun kagum akan kemegahan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Sehari setelah Raja Faruq menghadap ustadz Hudaibi, datang utusan istana ke kantor pusat Ikhwan Al Muslimin  membawa photo raja dalam suatu bingkai yang megah dihadiahkan kepada yang mulia ustadz Hasan Ismail Al Hudaibi Mursyid&#8217;aam IM, dengan dibubuhi tanda tangan raja.<span id="more-36"></span></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Utusan itu mengusulkan agar photo itu dipasang di Maktab Irsyad. Ikhwan pun kagum akan kemegahan photo tersebut, tetapi ustadz Hudaibi meminta agar mereka memberikan kebebasan untuk memilih tempat menggantungkan photo itu.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Setelah beberapa hari, photo itu belum juga dipasang di kantor pusat, lalu ustadz Hudaibi ditanya , &#8221; Mana photonya ? &#8220;, maka al ustadz menjawab , &#8221; saya bawa ke rumahku .&#8221;</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Sebagian ikhwan mengunjungi rumahnya untuk melihatnya tetapi mereka tidak melihatnya, secara kebetulan, salah seorang ikhwan masuk ke kamar kecil al ustdaz, ia melihat photo sang raja dengan segala kemegahannya itu teronggok begitu saja di lantai.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">sumber :<em>100 pelajaran dari para pemimpin Ikhwanul Muslimin</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dbiz.bedeng.com/2008/05/15/di-mankah-photo-sang-raja/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Membangkitkan jiwa syukur</title>
		<link>http://dbiz.bedeng.com/2008/05/15/membangkitkan-jiwa-syukur/</link>
		<comments>http://dbiz.bedeng.com/2008/05/15/membangkitkan-jiwa-syukur/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 May 2008 02:57:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dbiz</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Sketsa hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dbiz.bedeng.com/2008/05/15/membangkitkan-jiwa-syukur/</guid>
		<description><![CDATA[Keluarga itu hanya tertunduk pasrah menghadapi cobaan berat yang menimpa. Usia yang kian lanjut tak menjadikan sepasang suami istri itu berputus asa, padahal ke tiga anaknya menderita kelumpuhan, kelumpuhan yang datang tiba-tiba tanpa diketahui penyebabnya.
&#160;
Ketiga anaknya terpaksa memasuki usia remaja dengan kelumpuhan, dua anak hanya berbaring tidak berdaya sementara yang satu lagi sudah mulai tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Keluarga itu hanya tertunduk pasrah menghadapi cobaan berat yang menimpa. Usia yang kian lanjut tak menjadikan sepasang suami istri itu berputus asa, padahal ke tiga anaknya menderita kelumpuhan, kelumpuhan yang datang tiba-tiba tanpa diketahui penyebabnya.<span id="more-35"></span></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Ketiga anaknya terpaksa memasuki usia remaja dengan kelumpuhan, dua anak hanya berbaring tidak berdaya sementara yang satu lagi sudah mulai tak kuasa untuk melangkahkan kaki, alamat akan menyusul nasib kedua saudaranya itu. Usia remaja yang seharusnya mereka lewati dengan penuh warna hanya menjadi impian yang teramat sulit untuk diwujudkan.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Sehari-hari mereka diperlakukan ibarat bayi, mereka mesti digotong secara bergantian oleh kedua orang tua mereka yang sudah memasuki usia senja ketika akan mandi. Sang ibu dengan segala kesabaran selalu membersihkan bekas buang air anak-anaknya, makanpun harus disuapi, belum lagi kemiskinan yang menjerat leher, setelah habis menjual tanah untuk biaya berobat kini mereka hanya pasrah menunggu sang waktu menamatkan episode kehidupan yang dijalani.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Ada yang luar biasa yang terlihat dari penderitaan mereka, rasa tawakal yang kuat kepada sang pencipta. Entah bagaimana jika cobaan itu menimpa saya, rasanya tak ada kekuatan untuk bisa memanggulnya, karena saya biasanya menghadapi persoalan yang remeh-temeh saja, keluh-kesah segera menyerbu lisan ini, padahal ya itu tadi, masalah yang dihadapi bukan persoalan besar.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Sayangnya acara yang mampu membangkitkan kesadaran akan kebesaran Alloh ditayangkan ketika hari sudah larut malam, di saat kebanyakan orang sudah terlelap dalam mimpinya, kalaupun ada yang menonton mungkin memilih <em>channel </em>hiburan lebih menyenangkan daripada nonton kisah pilu kehidupan.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Saya merasa rasa syukur seketika menjalari sekujur tubuh, syukur bukan menyaksikan keadaan orang lain yang menderita, sama sekali bukan, bahkan saya angkat topi yang setinggi-tingginya kepada mereka lantaran sanggup memikul cobaan yang sebegitu berat. Syukur yang lahir semata-mata karena kebodohan saya dalam menghadapi kehidupan ini. Betapa banyak Alloh telah berikan karunia kepada saya, namun sedikit sekali yang saya syukuri hingga detik ini.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Tahukah Anda ? Karena tak pandai bersyukur itulah hidup saya kacau-balau, segalanya seolah-olah tidak sesuai harapan, kegagalan membuat hati berkerut, tak ada lagi semangat menatap hari esok, benar-benar sebuah kehidupan yang mengerikan, <em>nightmare</em> !</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Setelah menyaksikan tayangan tadi membuat saya mengevaluasi kembali cara berfikir saya selama ini, apa yang membuat sepasang kakek dan nenek di atas kuat menghadapi ujian sedahsyat itu ? Kenapa mereka masih bisa tersenyum ? Kenapa mereka masih bisa bersabar padahal kebahagiaan telah terenggut ? Secara nalar semua itu tak mampu saya jawab, sebab saya terbiasa bahagia apabila ada uang di dompet, saya terbiasa bahagia apabila bisa mengajak istri jalan-jalan ke pusat-pusat perbelanjaan, saya terbiasa bahagia apabila memborong buku-buku baru, tak terbayangkan jika saya bisa bahagia apabila kesusahan terus mendera hari-hari saya. Namun jika saya meminta hati berbicara, barulah saya menemukan jawabannya, semua kesusahan itu bisa dihadapi hanya dengan hati bukan dengan nalar.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Pertanyaannya seberapa sering kita mempergunakan hati untuk memandang kehidupan ini daripada nalar kita sendiri ? Nalar cenderung <em>kausalitas</em>, mengedepankan sebab-akibat. Saya baru bisa bahagia apabila ada uang, saya baru bisa senang jika belanja buku, dan seterusnya, karena itulah saya menderita. Tetapi hati berbeda, hati lebih mengedepankan keyakinan kepada kehendak Ilahi, apapun yang dihadapi dalam kehidupan ini, mau senang atau susah selama itu terjadi atas kehendak Yang Maha Kuasa maka setiap kejadian selalu ada hikmahnya, inilah rupanya rahasia kekuatan dari orang-orang yang teguh menghadapi ujian kehidupan.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Saya teringat sebuah lirik lagu :</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><em>Pandangan mata selalu menipu </em></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><em>Pandangan akal selalu tersalah</em></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><em>Pandangan hati selalu melulu</em></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><em>Pandangan hati itu yang hakiki </em></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. <em>dst </em></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Saya akan selalu terjebak dalam penderitaan yang tiada berkesudahan  apabila masih senang mendustai hati dan mengkerdilkan perannya dalam kehidupan saya, sementara nalar saya puja bak seorang raja, padahal tanpa peran hati sang <em>supervisor</em> maka nalar hanya akan menjerumuskan saya ke lembah kehancuran.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Sesungguhnya hati yang jernih akan melahirkan rasa syukur yang agung, itulah sumber mata air kebahagiaan yang hakiki.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Salam</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dbiz.bedeng.com/2008/05/15/membangkitkan-jiwa-syukur/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic Page Served (once) in 0.692 seconds -->
